Persib Libas Arema : 2-1 Berkat Doa Bobotoh

Bek jagoan Persib, Victor Igbonefo, mengucapkan banyak terima kasih kepada suporter mereka, Bobotoh. Igbonefo menduga, berkat doa yang diberikan bobotoh, Persib sanggup melumpuhkan Arema FC 2-1 di Stadion Kanjuruhan, Minggu 8 Maret 2020 sore WIB.

Dalam laga yang digelar di Stadion Kanjuruhan itu, bobotoh memang absen di tribun karena alasan keamanan. Meski begitu, bukan berarti mereka tidak memberikan dukungan maksimal kepada Wander Luiz dan kawan-kawan.

Victor Igbonefo

(Igbonefo saat laga melawan pemain-pemain Arema FC. Foto: Persib.co.id)

Beberapa tempat di Bandung dijadikan arena nonton bareng laga Arema FC vs Persib oleh bobotoh. Doa dan dukungan yang mereka berikan pun berbuah manis. Sebab, Maung Bandung –julukan Persib– mampu mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.

Gol-gol Persib dihasilkan Syaiful Indra Cahya (gol bunuh diri) pada menit 41, serta Wander Luiz via eksekusi penalti di menit 77. Sementara itu, satu-satunya gol Arema FC disumbangkan Elias Aldereta pada menit 45+3, juga lewat titik putih. Berkat kemenangan itu, Persib pun melesat ke puncak klasemen Liga 1 2020 dengan raihan enam poin.

“Yang pasti kami harus jauh lebih baik lagi dari pertandingan kemarin (kontra Persela). Ini baru awal, tetap jaga konsentrasi dan harus coba konsisten. Saya ucapkan terima kasih juga untuk bobotoh yang selalu mendoakan Persib,” kata Igbonefo mengutip dari laman resmi Persib, Senin (9/3/2020).

Awalnya, kepolisian Malang mengizinkan bobotoh untuk hadir di Stadion Kanjuruhan demi mendukung Persib di laga kontra Arema FC. Namun, perwakilan suporter Persib mengambil keputusan untuk menunda kedatangan mereka ke Malang.

“Panpel Arema FC menerima respons dari perwakilan supporter Persib bahwa mereka batal hadir karena masih ada pro dan kontra di kalangan grassroot” ungkap Ketua Panpel Arema FC, Abdul Haris, mengutip dari laman resmi Arema FC.

Baca juga : 3 Pemain Terbaik Asal PSM

Patent Licensing Revision in Indonesia

Indonesia has been gradually building a system for better patent licensing. However, progress has been in stops and starts. The previous regulation has now been replaced.  

2 weeks ago the Minister of Law and Human Rights has issued Regulation No. 30 of 2019 called Procedures for the Granting of Compulsory Patent Licensing. The Regulation sets out detailed procedures for the granting of compulsory patent licenses.

It replaces both the 2018 regulation mentioned above and regulation on the penalties for non-working or implementing patents in Indonesia. This will affect trademark registration Indonesia, too

The background briefly is that Indonesia has, since its first patent law in 1991 required patents to be worked or implemented in the country. For decades there was no sanction for non-working. The government recently announced that to encourage manufacturing patents must be worked or could be lost.

A complex system to extend the non-working period and grounds was set out. Many patent holders complained that many technologies simply could not be made in Indonesia either at all, or economically, so those patent owners faced losing their patents (possibly a breach of TRIPS).  One sanction for the nonworking of a patent was to be compulsory licensing. 

This new 2019 regulation creates a slightly different framework. It covers full patents and also simple patents. Three separate grounds for compulsory licensing are provided:

a. Failure to work a patent within 3 years
b. Implementation of a patent is contrary to public interest
c. It is not possible to implement a patent because of the existence of prior more basic patents

The first two grounds can be utilized by the government or third parties. The third allows the government or a patent owned to seek a compulsory license. Applicants for compulsory licenses must be able to demonstrate that they can and will use the patents to be licensed; and they have tried to seek a license already.

The basis of a decision to grant one must be that it is economically feasible and must offer benefits to the general public.  Limits to the grant may be provided to avoid harming the public interest.  There are special provisions for semiconductors, due to concerns from the smartphone supplier industry. After a grant royalties must be paid to the patent owner.

The differences over the previous system are twofold. One is that there appears to be far more detail about how and why a decision to grant a compulsory license will be made. Secondly, there appears to be a requirement of public benefit in Indonesia. This suggests a fairer procedure over and above the rather arbitrary sounding decision process contemplated previously. 

A detailed procedure is also set out; first a formalities review then a substantive examination of the issue by an expert team before the decision is made. What is not at present clear is how the patent holder is to be granted the right to make representations, which appears to be set out in the grounds. 

In principle, this looks a more balanced system, but until we see applications and grants it will remain unclear. It is not really obvious which industries will use this, given Indonesia does not have advanced manufacturing in every tech sector. 

A further complexity relates to the requirement for patent owners to work their patents. This rule still exists, and patent owners can still apply to delay the working of any patent for up to 5 years by special application to the IP office. It remains critical to file these to defer the risk of compulsory licensing.  

Baca juga : DC Comics Kehilangan Gugatan Copyright Infringement Melawan Perusahaan Snack Lokal

Beberapa Keputusan Kontroversial Wasit di Liga 1 2019

Keputusan kontroversial wasit menjadi salah satu alasan klasemen Liga 1 2019 selalu dalam perbincangan. Keputusan yang salah membuat hasil akhir pertandingan diperdebatkan.

Liga 1 2019 lagi-lagi menjadi sorotan. Kericuhan pasca laga Persela Lamongan vs Borneo FC adalah buntut dari protes kedua klub atas kepemimpinan wasit Wawan Rapiko. Setelah wasit meniup peluit panjang bahkan suporter pun turut masuk ke lapangan dan menyerang salah satu perangkat pertandingan.

Wasit yang memegang peranan penting dalam sebuah pertandingan sepak bola kerap dijadikan kambing hitam atas ketidakpuasan pemain, pelatih, dan suporter.

Gaya bermain kesebelasan Liga 1 yang keras pun acap menuntut korps baju hitam itu mengambil keputusan yang tak hanya tegas tetapi juga benar.

Penyelenggaraan Liga 1 musim ini masih kerap diwarnai keputusan yang memancing perdebatan. Baik berupa pengesahan atau penganuliran gol, penentuan pelanggaran, termasuk pemberian penalti.

Berikut beberapa keputusan kontroversial wasit dalam Liga 1 2019.

PSIS Semarang vs Persija Jakarta (26/5)
Persija tidak mendapat penalti setelah handball Rio Saputra. Wasit Yudi Nurcahya mendiamkan dan tidak menggubris protes pemain Macan Kemayoran. PSIS membukukan kemenangan 2-1 dalam laga yang berlangsung pada pekan kedua Liga 1 2019.

Arema FC vs Persela Lamongan (27/5)
Tekel dari belakang yang dilakukan Hamka Hamzah kepada Alex dos Santos yang tidak diganjar kartu merah oleh wasit Dwi Susilo berujung pada ketidakpuasan Aji Santoso yang kala itu masih melatih Persela. Hamka mendapat kartu kuning dan laga berakhir dengan skor 3-2 untuk Arema.

Barito Putera vs Bali United (14/7)
Klub Bali United memprotes keras kepemimpinan wasit Iwan Sukoco. Dalam laga tandang menghadapi Barito Putera, dua gol Serdadu Tridatu dinyatakan offside oleh Iwan. Gol Ricky Fajrin dianulir karena dianggap melakukan pelanggaran lebih dahulu, sementara Melvin Platje dibatalkan lantaran dinilai offside. Dalam laga itu Bali United kalah 0-1.

PSS Sleman vs Semen Padang (25/7)
Wasit Armyn Dwi Suryathin memberi penalti untuk PSS Sleman setelah Kushedya Hari Yudo terjatuh. Dalam tayangan ulang, Yudo saat itu terjatuh tanpa adanya benturan dengan pemain Semen Padang. Eksekusi Brian Ferreira yang sukses membuat laga berakhir imbang 1-1. 

Baca juga : 3 Pemain Terbaik Asal PSM

Kenali apa itu sistem ERP

ERP adalah singkatan dari Enterprise Resource Planning yang berarti sebuah sistem terpadu yang mengelola seluruh sumber daya dalam perusahaan. ERP mencakup semua aspek dari proses bisnis yang ada di perusahaan seperti : marketing, manajemen prospek, manajemen pelanggan, penjualan, pembelian, stok barang, manajemen gudang, akuntansi, lowongan pekerjaan, sumber daya manusia, penggajian, manajemen proyek dan masih banyak lagi.

ERP adalah sistem yang terintegrasi dan terkait secara solid antara semua bagian dalam proses bisnis tersebut. Sistem ERP bisa berupa kumpulan software yang terpisah ataupun berupa satu sistem yang utuh yang menangani seluruh proses dari setiap bagian bisnis dan individu dalam bisnis tersebut.

Siapa yang memerlukan sistem ERP?

Secara teori sebenarnya hanya perusahaan besar yang membutuhkan sistem yang terintegrasi karena begitu kompleksnya proses bisnis yang ada di perusahaan besar. Namun saat ini akan lebih baik jika perusahaan bahkan yang baru merintis sekalipun sudah mulai mempertimbangkan untuk mengadopsi sistem ERP sejak awal untuk memudahkan migrasi data di kemudian hari.

Mengapa perusahaan lebih baik mengadopsi sistem ERP termasuk UKM?

Kami berpendapat untuk saat ini setiap perusahaan yang berniat serius untuk berkembang wajib menggunakan software inventory barang sejak awal karena penggunaan aplikasi terpisah misalnya aplikasi akuntansi, aplikasi kasir, aplikasi email marketing hanya akan memperburuk dan mengurangi efisiensi manajemen sumberdaya dalam perusahaan tersebut. Justru sebaiknya pengusaha baru pun menggunakan ERP sejak awal.

Manfaat menggunakan sistem ERP

  1. Integrasi. Inilah manfaat utama menggunakan sistem ERP, integrasi antar bagian dan antar individu dalam proses bisnis sangatlah penting. Contoh : ERP memudahkan integrasi antara marketing, sales dan juga akuntansi untuk mensinkronkan data penjualan hingga data posisi keuangan secara real time.
  2. Perencanaan. Sistem ERP juga mampu melakukan mengatur perencanaan yang lebih valid dan tersusun yang pada akhirnya mampu meningkatkan daya saing perusahaan dan juga meningkatkan laba perusahaan.

Habibie & Ainun : Kisah Cinta Sepanjang Masa

” Tak perlu yang seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuat berarti lebih dari siapapun” B.J.Habibie

Bicara soal film romantis indonesia, selain mengingat AADC yang tak lekang oleh waktu, dilan yang sangat erat dengan kisah anak muda, kalian tentu masih mengingat Habibie & Ainun, perjalanan cinta presiden RI ke 3 ini, sangat melekat di hati.

Diperankan oleh aktor multitalenta Reza Rahardian, Habibie & Ainun sanggup merasuk dalam benak penontonnya hingga menjadi trilogi ( habibie & ainun 3 yang akan tayang di bioskop tanggal 12 desember 2019).

Scene pertama film ini dimulai dengan setting masa lalu saat Habibie dan Ainun masih SMA. Menceritakan bahwa ternyata memang jodoh itu sudah memiliki tanda-tanda. Banyak kesamaan diantara mereka berdua. Sebanyak perbedaan yang ada di dalamnya. Adegan yang cukup menggelitik adalah saat Habibie meledek Ainun dengan kata-kata “Gula Jawa”. Serta menganalogikan gula jawa sebagai gendut, item, dan jelek. Tapi itulah tanda awal rasa cinta Habibie

Habibie dalam film terlihat kejeniusannya, walau tanpa memamerkan rumus-rumus yang sulit. Skor plus untuk Reza Rahardian dalam mendalami karakter Habibie.

compact_habibie-reza

Dan ada humor di film ini dikemas dengan cara yang apik. Segar dan tidak garing.

Satu lagi yang bikin salut dari film ini adalah penggarapan setting tempat yang diperhitungan secara matang. Penonton seperti dibawa ke Bandung tahun 50an. Mobil-mobil antiknya, rumah tuanya, dan gaya hidupnya.

Kerennya film ini juga bisa membawa kita jalan- jalan ke Aachen, Jerman tempat Habibie menimba ilmu dan memboyong keluarganya. Ceritanya, setelah menikah Habibie membawa Ainun ke Jerman dengan segala keterbatasannya saat itu. Pengorbanan yang luar biasa dari seorang ainun. Dia mengorbankan kariernya sebagai dokter dan kehangatan kasih sayang Ibu Bapaknya demi menemani Habibie. Dan Habibie pun membayarnya lunas dengan sebuah janji menjadi suami terbaik yang dia tepati.

Hidup serba kekurangan di negeri orang itu ga mudah kawan. Tiada satupun yang bisa dijadikan tempat bergantung. Jauh dari siapa-siapa. Kalau tidak ada partner yang saling menguatkan, mungkin mereka sudah mati perlahan. Habibie sempurna untuk Ainun, dan Ainun sempurna untuk Habibie.

Di Indonesia dengan cepat pengaruh kuat Habibie cepat sekali mendapat simpati publik bahkan sampai Presiden Soeharto pun takjub. Cita-cita mulia ditambah kejeniusannya mengaplikasikan rencananya membuat misi Habibie terwujud.

Sebagus-bagusnya rencana, kalau pelaksanaannya nol maka itu akan berakhir menjadi angan-angan belaka. Habibie menunjukan kepada kita tentang kuatnya Impian yang dipadukan dengan perbuatan. Impian ada, pengerjaannya pun serius. Maka hasilnya wow! Pesawat gatot koco alias pesawat pertama yang di buat oleh anak-anak bangsa.

Oiya, saat membangun pesawatnya Ainun dan tiga anak Habibie ditinggal di Jerman. Dan saat Habibie diangkat menjadi menristek, lagi-lagi Ainun harus berkorban untuk kedua kalinya. Dia mengorbankan karir dokter nya di Jerman untuk mendampingi Habibie di Indonesia.

Habibie yang karir politiknya semakin cemerlang hingga menjadi wakil presiden untuk kemudian menjadi presiden hanya dalam waktu beberapa bulan mengajarkan kita banyak hal. Semakin tinggi pohon maka semakin tinggi pula badainya. Fitnah, intrik politik, dan tudingan kejam tak pelak menimpa Habibie. Untuk itulah Ainun ada. Menjadi penjaga sekaligus pendamping terbaik untuk Habibie.

Habibie yang orang IPA harus bergelut mati-matian mempelajari ekonomi karena kondisi rupiah yang jatuh saat reformasi terjadi. Tidur hanya satu jam sehari dan yang ia dapatkan justru demo-demo yang menuduhnya korupsi.

Dari kejadian itu kini kita paham jika kita itu sebenarnya terlalu mudah percaya isu-isu televisi. Entah sesat atau benar kita telan mentah-mentah. Sehingga ga heran orang-orang luar biasa jenius seperti Habibie dan Gus Dur saat memimpin pun tidak tahan. Ya siapa yang tahan, kerja kerasnya dan kecerdasannya hanya dihargai demo-demo salah alamat. Setelah mereka lengser, baru deh kita menyesal. Menyesal setelah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di baliknya.

Saking kuatnya Bu Ainun, kanker pun ia tahan dan sembunyikan dari suaminya. Ia sadar, kalau ia lemah bagaimana nanti dengan suaminya? Karena Bu Ainunlah sebenarnya sumber energi Habibie selama ini. Bagaimana perjuangan seorang istri yang diselingkuhi oleh jabatan serta tahta sang suami namun ia masih bertahan dan justru bertambah besar cintanya. Satu teladan yang akan sulit ditemukan sekarang ini.

Semuanya terlambat ketika Habibie memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Presiden. Hanya menikmati beberapa minggu kebersamaan dengan Ainun akhirnya kenyataan pahitlah yang membawanya menapak lagi di Bumi. Kanker Ovarium Ainun yang sudah mencapai stadium 3.

Usaha Habibie untuk menyembuhkan Ainun dengan dokter terhebat, peralatan tercanggih di Jerman pun ia lakukan.

habibie-sedang-mencium-istrinya-ainun-habibie-yang-sedang-koma

Saat inilah momen yang mengharukan. Dimana Habibie yang begitu mencintai Ainun tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkannya dari maut yang menjemput. Berkali-kali operasi tak banyak menolong. Ya, akhirnya Bu Ainun meninggal dunia dan meninggalkan penyesalan luar biasa untuk seorang Habibie. Habibie yang telah menggadaikan waktu-waktu spesialnya bersama Ainun demi Indonesia.

Demi mimpi dan cita-cita luhurnya. Kita mungkin belum sampai taraf itu, namun kita kembali diingatkan bahwa hidup memang pilihan. Hak kitalah yang menentukan kemana arah hidup ini kan dibawa.

Setelah nonton, selain pesan moral yang kuat, rasa nasionalisme kita pun akan terangkat. Heroisme dan rasa legowo seorang Habibie yang harus miris melihat pesawat kebanggaannya sekarang tenggelam dan teronggok begitu saja. Buah dari masyarakat yang gampang lupa dan pemerintah yang suka alpha. Bagaimana sakit hati seorang Habibie yang telah mengorbankan hampir seluruh hidupnya, mengorbankan waktunya dengan keluarga, demi mencipta sebuah pesawat dengan label kebanggan Indonesia. Yang pada akhirnya pesawat yang sudah mati-matian tercipta itu hanya teronggok berdebu begitu saja.  Hanya mendapat sorak sorai pada zamannya. Dan kemudian terlupakan selamanya.

3 Pemain Terbaik Asal PSM

logo PSM Makassar

PSM Makassar dikenal juga dengan pasukan Ramang / Juku Eja. Tim sepakbola tertua di Indonesia ini termasuk yang berprestasi engan sekali menjadi juara, empat kali runner up, dan hanya sekali gagal masuk putaran final. PSM Makassar saat ini tergabung dalamn Liga 1 Shopee.

Dalam sejarah panjang PSM, banyak bertabur bintang yang ikut sumbangsih mengharumkan nama Indonesia. Berikut 3 bintang yang sempat mewarnai perjalanan PSM ;

  1. Andi Ramang

Striker asal Barru, Sulawesi Selatan ini pernah mengantarkan PSM (dulu MVB) menjadi juara saat era perserikatan (turnamen sepakbola pertama di Indonesia). Ramang terkenal dengan tendangan saltonya, dan mengharumkan timnas Indonesia dalam laga melawan RRC dan Uni Soviet.

2. Kurniawan Dwi Yulianto

Striker asal magelang ini mempunyai karir yang gemilang dengan membuktikan jadi bagian dari tim di eropa, tepatnya sampdoria. Pemain yang kerap dipanggil ade dan kurus ini pernah terjerembab karena kasus narkoba. Ia membela PSM pada tahun 1999-2001

3. Kurnia Sandy

Mantan kiper berbakat ini pernah membela PSM Makassar bahkan klub eropa, Sampdoria. Prestasi menonjol Kurnia Sandy sangat terlihat kala laga Indonesia melawan Kuwait, dimana ia sanggup menangkis 6 serangan ke arah gawangnya. Sandy bergabung dengan PSM makassar ditahun 2001-2003.

Baca juga : Ayah Messi Bantah Isu Pindah ke PSG