Mengupas Aturan Royalti Musik di Indonesia

Ketika data tidak dikonsolidasikan atau tidak lengkap, melacak pemilik hak cipta sebenarnya dari sebuah lagu dan membayar royalti musik yang sesuai menjadi perjuangan yang berat.

Terlepas dari tujuannya yang mulia, peraturan tersebut telah memicu kemarahan orang-orang di luar industri musik, yang merasa bahwa peraturan tersebut memberikan beban yang tidak semestinya pada banyak industri yang telah hancur akibat pandemi. Djonny Syafruddin, Ketua Umum Gabungan Perfilman Seluruh Indonesia, misalnya, menilai royalti LMKN sebesar Rp 3,6 juta per layar per tahun terlalu tinggi. Syafruddin malah menawarkan untuk membayar Rp 600.000 per layar per tahun, dan meminta agar bioskop diizinkan membayar biaya tersebut setelah industri pulih dari pandemi.

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (Asphija) menyatakan terkejut dengan peraturan tersebut dan menyayangkan fakta bahwa itu telah berlaku saat negosiasi dengan LMKN sedang berlangsung tentang royalti yang tepat untuk klub malam dan tempat karaoke.

Namun, bagi sebagian orang di industri musik, peraturan tersebut menawarkan kesempatan untuk membalas.

“Peraturan ini menjamin kesejahteraan para komposer yang telah puluhan tahun berada di bawah jempol stasiun TV, radio, hotel, dan ruang komersial lainnya yang tidak membayar royalti,” kata jurnalis Wendi Putranto, yang juga mengelola band metal populer Seringai.

“[Tempat-tempat ini] bahkan akan mengatakan bahwa mereka memberi musisi ‘promosi gratis’ dengan memainkan lagu-lagu mereka.”

Pertarungan yang benar: Wartawan musik Wendi Putranto, yang juga mengelola band rock Seringai, mengatakan bahwa musisi, komposer, dan penulis lagu hanya meminta hak mereka. 

Banyak yang ingin membalik naskah itu, karena alih-alih musisi mendapatkan promosi gratis, ruang komersial telah lama diuntungkan dengan menyediakan suasana dengan memutar musik mereka secara gratis.

“Kami belum benar-benar menghargai kehadiran musik di [ruang] publik,” kata Noor Kamil, manajer label di agregator musik Believe Digital. “Kafe itu nyaman bukan hanya karena kopinya, tapi karena suasananya. Musik menyediakan itu.”

Baca juga : Aturan royalti musik: Apa benar-benar menguntungkan pencipta dan artis?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *