Habibie & Ainun : Kisah Cinta Sepanjang Masa

” Tak perlu yang seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuat berarti lebih dari siapapun” B.J.Habibie

Bicara soal film romantis indonesia, selain mengingat AADC yang tak lekang oleh waktu, dilan yang sangat erat dengan kisah anak muda, kalian tentu masih mengingat Habibie & Ainun, perjalanan cinta presiden RI ke 3 ini, sangat melekat di hati.

Diperankan oleh aktor multitalenta Reza Rahardian, Habibie & Ainun sanggup merasuk dalam benak penontonnya hingga menjadi trilogi ( habibie & ainun 3 yang akan tayang di bioskop tanggal 12 desember 2019).

Scene pertama film ini dimulai dengan setting masa lalu saat Habibie dan Ainun masih SMA. Menceritakan bahwa ternyata memang jodoh itu sudah memiliki tanda-tanda. Banyak kesamaan diantara mereka berdua. Sebanyak perbedaan yang ada di dalamnya. Adegan yang cukup menggelitik adalah saat Habibie meledek Ainun dengan kata-kata “Gula Jawa”. Serta menganalogikan gula jawa sebagai gendut, item, dan jelek. Tapi itulah tanda awal rasa cinta Habibie

Habibie dalam film terlihat kejeniusannya, walau tanpa memamerkan rumus-rumus yang sulit. Skor plus untuk Reza Rahardian dalam mendalami karakter Habibie.

compact_habibie-reza

Dan ada humor di film ini dikemas dengan cara yang apik. Segar dan tidak garing.

Satu lagi yang bikin salut dari film ini adalah penggarapan setting tempat yang diperhitungan secara matang. Penonton seperti dibawa ke Bandung tahun 50an. Mobil-mobil antiknya, rumah tuanya, dan gaya hidupnya.

Kerennya film ini juga bisa membawa kita jalan- jalan ke Aachen, Jerman tempat Habibie menimba ilmu dan memboyong keluarganya. Ceritanya, setelah menikah Habibie membawa Ainun ke Jerman dengan segala keterbatasannya saat itu. Pengorbanan yang luar biasa dari seorang ainun. Dia mengorbankan kariernya sebagai dokter dan kehangatan kasih sayang Ibu Bapaknya demi menemani Habibie. Dan Habibie pun membayarnya lunas dengan sebuah janji menjadi suami terbaik yang dia tepati.

Hidup serba kekurangan di negeri orang itu ga mudah kawan. Tiada satupun yang bisa dijadikan tempat bergantung. Jauh dari siapa-siapa. Kalau tidak ada partner yang saling menguatkan, mungkin mereka sudah mati perlahan. Habibie sempurna untuk Ainun, dan Ainun sempurna untuk Habibie.

Di Indonesia dengan cepat pengaruh kuat Habibie cepat sekali mendapat simpati publik bahkan sampai Presiden Soeharto pun takjub. Cita-cita mulia ditambah kejeniusannya mengaplikasikan rencananya membuat misi Habibie terwujud.

Sebagus-bagusnya rencana, kalau pelaksanaannya nol maka itu akan berakhir menjadi angan-angan belaka. Habibie menunjukan kepada kita tentang kuatnya Impian yang dipadukan dengan perbuatan. Impian ada, pengerjaannya pun serius. Maka hasilnya wow! Pesawat gatot koco alias pesawat pertama yang di buat oleh anak-anak bangsa.

Oiya, saat membangun pesawatnya Ainun dan tiga anak Habibie ditinggal di Jerman. Dan saat Habibie diangkat menjadi menristek, lagi-lagi Ainun harus berkorban untuk kedua kalinya. Dia mengorbankan karir dokter nya di Jerman untuk mendampingi Habibie di Indonesia.

Habibie yang karir politiknya semakin cemerlang hingga menjadi wakil presiden untuk kemudian menjadi presiden hanya dalam waktu beberapa bulan mengajarkan kita banyak hal. Semakin tinggi pohon maka semakin tinggi pula badainya. Fitnah, intrik politik, dan tudingan kejam tak pelak menimpa Habibie. Untuk itulah Ainun ada. Menjadi penjaga sekaligus pendamping terbaik untuk Habibie.

Habibie yang orang IPA harus bergelut mati-matian mempelajari ekonomi karena kondisi rupiah yang jatuh saat reformasi terjadi. Tidur hanya satu jam sehari dan yang ia dapatkan justru demo-demo yang menuduhnya korupsi.

Dari kejadian itu kini kita paham jika kita itu sebenarnya terlalu mudah percaya isu-isu televisi. Entah sesat atau benar kita telan mentah-mentah. Sehingga ga heran orang-orang luar biasa jenius seperti Habibie dan Gus Dur saat memimpin pun tidak tahan. Ya siapa yang tahan, kerja kerasnya dan kecerdasannya hanya dihargai demo-demo salah alamat. Setelah mereka lengser, baru deh kita menyesal. Menyesal setelah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di baliknya.

Saking kuatnya Bu Ainun, kanker pun ia tahan dan sembunyikan dari suaminya. Ia sadar, kalau ia lemah bagaimana nanti dengan suaminya? Karena Bu Ainunlah sebenarnya sumber energi Habibie selama ini. Bagaimana perjuangan seorang istri yang diselingkuhi oleh jabatan serta tahta sang suami namun ia masih bertahan dan justru bertambah besar cintanya. Satu teladan yang akan sulit ditemukan sekarang ini.

Semuanya terlambat ketika Habibie memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Presiden. Hanya menikmati beberapa minggu kebersamaan dengan Ainun akhirnya kenyataan pahitlah yang membawanya menapak lagi di Bumi. Kanker Ovarium Ainun yang sudah mencapai stadium 3.

Usaha Habibie untuk menyembuhkan Ainun dengan dokter terhebat, peralatan tercanggih di Jerman pun ia lakukan.

habibie-sedang-mencium-istrinya-ainun-habibie-yang-sedang-koma

Saat inilah momen yang mengharukan. Dimana Habibie yang begitu mencintai Ainun tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkannya dari maut yang menjemput. Berkali-kali operasi tak banyak menolong. Ya, akhirnya Bu Ainun meninggal dunia dan meninggalkan penyesalan luar biasa untuk seorang Habibie. Habibie yang telah menggadaikan waktu-waktu spesialnya bersama Ainun demi Indonesia.

Demi mimpi dan cita-cita luhurnya. Kita mungkin belum sampai taraf itu, namun kita kembali diingatkan bahwa hidup memang pilihan. Hak kitalah yang menentukan kemana arah hidup ini kan dibawa.

Setelah nonton, selain pesan moral yang kuat, rasa nasionalisme kita pun akan terangkat. Heroisme dan rasa legowo seorang Habibie yang harus miris melihat pesawat kebanggaannya sekarang tenggelam dan teronggok begitu saja. Buah dari masyarakat yang gampang lupa dan pemerintah yang suka alpha. Bagaimana sakit hati seorang Habibie yang telah mengorbankan hampir seluruh hidupnya, mengorbankan waktunya dengan keluarga, demi mencipta sebuah pesawat dengan label kebanggan Indonesia. Yang pada akhirnya pesawat yang sudah mati-matian tercipta itu hanya teronggok berdebu begitu saja.  Hanya mendapat sorak sorai pada zamannya. Dan kemudian terlupakan selamanya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *